Monday, May 28, 2012

FILOSOF IBNU SINA (Kosmologi, Filsafat Jiwa, Filsafat Kenabian dan Filsafat Wujudnya)


FILOSOF IBNU SINA
Oleh : Anis Syarifah

a.      Ibnu Sina
Ibnu Sina lahir dalam masa kekacauan, ketika Khalifah Abbasiyah mengalami kemunduran dan negeri-negeri yang mula-mula berada di bawah kekuasaan khalifah tersebut mulai melepaskan diri satu per satu untuk berdiri sendiri. Kota Baghdad sendiri, sebagai pusat pemerintahan Khalifah Abbasiyah dikuasai oleh gologan Bani Bawaih pada tahu 334 H. dan kekuasaan mereka berlangsug terus sampai tahun 447 H. Di antara daerah-daerah yang berdiri sediri ialah daulat Semai di Bukhara, dan diantara khalifahnya ialah Nuh bin Mansur.[1]
Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina. Dia dilahirkan di desa Afsyanah dekat Bukhara pada tahun 370 H (980 M), berdasarkan riwayat dari Ibnu Khalkan,[2] atau pada tahun 375 H (985 M), berdasarkan riwayat dari Ibnu Abi Ushaibiah.[3] Ayahnya berasal dari Ismailiyah. Kemudian ibnu Sina pindah bersama keluarganya ke Bukhara. Disana dia belajar Al-Qur’an dan sastra saat usianya sekitar sepuluh tahun. Dia juga belajar dan berguru ilmu fiqih pada ahli zuhud yang bernama Ismail, serta belajar ilmu mantiq dan teknik kepada Abdullah Natalie. Setelah ditinggal wafat Abdullah natalie, maka Ibnu Sina mengkaji dan mencari ilmu sendiri. Dia selanjutnya mempelajari ilmu fisika dan ketuhanan, sehingga namanya menjadi populer lantaran kepiawaiaannya pada bidang tersebut.
Saat remaja, selama 1,5 tahun Ibnu Sina berkonsentrasi membaca agar mendapat pelajaran dan ilmu pengetahuan. Dia kembali mengkaji logika dan seluruh cabang filsafat sehingga menguasai seluruhnya. Uniknya, jika mengalami kesulitan dalam menjawab sebuah masalah atau pertanyaan, maka dia berwudhu dan pergi ke masjid jami’ untuk berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan dalam mejawabnya dan membuka kunci ilmunya.[4]
Ibnu Sina sangat gemar mencari ilmu, sebagai buktinya dia membaca buku metafisika Aristoteles hingga 40 kali untuk dapat memahami buku tersebut, namun tidak berhasil dan kemudian berputus asa. Secara kebetulan dia membaca buku karangan Abu Nashar al-Farabi tentang tujuan metafisik, dan pada akhirnya dapat memahami tujuan buku tersebut. Karena begitu bahagiannya dapat memahami buku al-Farabi itu, maka sebagai tanda syukur ia bersedekah kepada kaum miskin.  
Pada tahun 428 H (1037 M) Ibnu Sina menghembuskan nafas terakhir di Hamadzan pada usia 58 tahun dan dimakamkan di Hamadzan. Namun ada yang berpendapat bahwa makamnya dipindah ke Isfahan. Pemikiran Ibnu Sina banyak dipengaruhi oleh pandangan dan pendapat al-Farabi. Dia membaca buku-buku  karangan al-Farabi hingga tamat, sehingga mempengaruhi buku-buku yang dikarangnya.

b.      Kosmologi
Konsep kosmologi Ibnu Sina tidak jauh bereda dengan konsep Akal Sepuluh al-Farabi. Istilah pemancaran atau emanasi sejalan dengan para pendahulunya.[5] Ibnu Sina juga terpengaruh oleh para filosof Yunani, terutama Plotinus dalam menjelaskan bagaimana dari yang satu muncul keberagaman.[6] Dari Tuhan memacarkan Akal Pertama, dan dari Akal Pertama memanncar Akal Kedua dan langit pertama. Demikian seterusnya hingga mencapai Akal Sepuluh dan bumi. Dari Akal Sepuluh memancar segala sesuatu di bumi yang berada di bawah bulan. Akal Pertama adalah malaikat tertinggi dan Akal Sepuluh adalah Jibril.[7]
Berbeda dengan konsep akal Farabian yang memiliki dua obyek pemikiran, yaitu berpikir mengenai Tuhan sebagai Wujud Pertama dan berpikir tentang dirinya sendiri, lain halnya dengan konsep Ibnu Sina yang memiliki tuga obyek perenungan. akal pertama yang mempunyai dua sifat, yaitu wajib al-wujud lighairihi sebagai pancaran dari Tuhan, dan mumkin al-wujud lidzatihi apabila ditinjau dari hakikat dirinya. akal pertama mempunyai tiga obyek pemikiran, yakni Yuhan, dirinya sendiri sebagaimana wajib al-wujudnya, dan dirinya sebagai mumkin al-wujud-nya. Ketika akal memikirkan Tuhan akan timbul akal-akal yang lain. Ketika akal memikirkan dirinya sebagai wajib al-wujud-nya, timbul jiwa-jiwa, dan dari aktivitas berpikir tentang dirinya sebagai mumkin al-wujud-nya timbul langit-langit. Jadi, Akal Pertama melimpahkan tiga wujud, yaitu Akal Kedua, Jiwa Pertama, dan langit tempat fixed stars. Gambaran secara skematis dapat dilihat pada penjelasan yang dinerikan Netton.
c.       Filsafat Jiwa
Ibnu Sina mendefinisikan jiwa sebagaimana Aristoteles mendefinisikannya pada waktu sebelumnya. Menurut Ibnu Sina, jiwa adalah kesempurnaan awal, karena dengannya spesies (jins) menjadi sempurna sehingga menjadi manusia nyata. Pengertian kesempurnaan menurut Ibnu Sina adalah sesuatu yang dengan keberadaannya tabiat jenis menjadi manusia.
Ibnu Sina membagi daya jiwa menjadi tiga bagian, yaitu :
1.      Jiwa Tumbuh-tumbuhan
Menurut Ibnu Sina, jiwa tumbuh-tumbuhan memiliki tiga daya, yaitu :
a.       Daya nutrisi, yaitu daya yang mengubah makanan menjadi bentuk tubuh, dimana daya itu ada di dalamnya.
b.      Daya pembuluh, yaitu daya penambah kesesuaian pada seluruh bagian tubuh yang diubah karena makanan, baik dari sisi panjang, lebar, maupun volume.
c.       Daya generativ, yaitu daya yang mengambil dari suatu bagian tubuh yang secara potensial sama.
2.      Jiwa Hewan
Ibnu Sina berpendapat bahwa jiwa hewan memiliki kekuatan, yaitu :
1.      Daya penggerak, yang terdiri dari dua bagian, yaitu penggerak sebagai pemici dan penggerak sebagai pelaku. Penggerak sebagai pemicu adalah daya hasrat. Daya penggerak sebagai pemicu ini terbagi menjadi dua sub-bagian, yaitu daya syahwat dan daya daya emosi.     
Daya penggerak sebagai pelaku adalah daya yang muncul di dalam urat dan syaraf untuk melakukan gerakan yang sesuai dengan tujuan untuk mewujudkan keinginan.
2.      Daya persepsi, terbagi menjadi dua bagian, yaitu daya yang mempersepsi dari luar (panca indera eksternal) dan daya yang mempersepsi dari dalam (indera batin, semisal indera kolektif, daya konsepsi, daya fantasi, waham, dan memori.)


3.      Jiwa Rasional
Seperti yang dilakukan al-Farabi, Ibnu Sina membedakan dua daya di dalam jiwa rasional, yaitu :
1.      Daya akal praktis, cenderung untuk mendorong manusia memuaskan perbuatan yang pantas dilakukan atau ditinggalkan, dapat disebuat juga perilaku moral.
2.      Daya akal teoritis, adalah mempersepsi potret-potret universal yang  bebas dari materi.[8] Ada beberapa tingkatan akal teoritis, yaitu : 1) Akal potensial (akal hayulani); 2) Akal bakat (habitual); 3) Akal aktual; 4) Akal perolehan.

d.      Filsafat Wahyu dan Nabi
Seperti keterangan di atas bahwa akal mempunyai empat tingkat dan yang terendah diantaranya ialah akal materiil (potensi) ada kalanya Tuhan menganugerahkan kepada manusia akal materiil (potensi) yang begitu kuat. Yang oleh Ibnu Sina diberi nama al-hads yaitu intuisi. Daya yang ada pada akal materiil serupa ini begitu besarnya, sehingga tanpa melalui latihan, dengan mudah dapat berhubungan dengan akal aktif dan dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akal yang serupa ini mempunyai daya suci. Inilah bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh manusia, dan terdapat hanya pada Nabi-Nabi.[9]

e.       Filsafat Wujud
Bagi Ibnu Sina sifat wujudlah yang terpenting dari yang mempunyai kedudukan di atas sifat lain, walaupun esensi sendri. Esensi, dalam paham Ibnu Sina, terdapat dalam akal, sedang wujud terdapat diluar akal. Wujudlah yang membuat tiap esensi yang dalam akal mempunyai kenyataan diluar akal. Tanpa  wujud, esensi tidak besar artinya. Oleh karena itu wujud lebih penting dari esensi. Tidak mengherankan bila dikatakan bahwa Ibnu Sina telah lebih dulu menimbulkan filsafat wujud atau existensialisme dari filosof-filosof lain. Kalau dikombinasikan, esensi dan wujud dapat mempunyai kombinasi berikut :
1.      Esensi yang tak dapat mempunyai wujud, dan hal yang serupa ini disebut oleh Ibnu Sina mumtani’, yaitu sesuatu yang mustahil berwujud. Sebagai perumpamaan, adanya semua ini juga cosmos lain disamping cosmos yang ada.
2.      Esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak mempunyai wujud. Yang serupa ini disebut mumkin, yaitu sesuatu yang mungkin berwujud tetapi mungkin pula tidak berwujud. Contohnya ialah alam ini yang pada mulanya tidak ada, kemudian ada dan akhirnya akan hancur menjadi tidak ada.
3.      Esensi yang tak boleh tidak mesti mempunyai wujud. Disini esensi tidak bisa dipisahkan dari wujud, esensi dan wujud adalah sama dan satu. Disini esensi tidak dimulai oleh tidak berwujud dan kemudian berwujud, sebagaimana halnya dengan esensi dalam kategori kedua, tetapi esensi mesti dan wajib mempunyai wujud selama-lamanya.  Yang serupa ini disebut mesti berwujud, yaitu Tuhan. Wajib al-wujud itulah yang menunjukan mumkin wujud.
Dengan argument ini Ibnu Sina ingin membuktikan adanya Tuhan menurut logika.[10]

f.       Kesimpulan
Ibnu Sina dengan nama lengkap Abu Ali bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina  dilahirkan di desa Afsyanah dekat Bukhara. Pada usia sekitar sepuluh tahun Ibnu Sina belajar Al-Qur’an dan sastra, dia juga mempelajari fiqih, ilmu mantiq dan teknik. Dia selanjutnya mempelajari ilmu fisika dan ketuhanan, sehingga namanya menjadi populer lantaran kepiawaiaannya pada bidang tersebut.
Konsep kosmologi Ibnu Sina tidak jauh bereda dengan konsep Akal Sepuluh al-Farabi, dia juga terpengaruh filsuf Yunani terutama Plotinus. Ibnu Sina membagi jiwa menjadi tiga bagian, yaitu jiwa tumbuh-tumbuhan, jiwa hewan dan jiwa rasional. Selain itu Ibnu Sina juga memiliki filsafat wahyu dan nabi, serta filsafat wujudnya yang dapat membuktikan adanya Tuhan menurut logika.

g.      Daftar Pustaka
[1]   Dr. Amroeni Drajat, Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu, Jakarta : Erlangga, 2006.
[2]   Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta : Bintang Bulan,1973.
[3]   Dr. Muhammad ‘Utsman Najati, Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim, Bandung : Pustaka Hidayah, 1993.
[4]   Poerwantana, dkk, Seluk Beluk Filsafat Islam, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1988.


[1] Drs. Purwantana dkk, 1988, Seluk Beluk Filsafat Islam, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, hlm 144.
[2] Ibnu Khalkan, juz 2, hlm 161, dalam Dr. Muhammad ‘Utsman Najati, 1993, Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim, Bandung : Pustaka Hidayah, hlm 137.
[3] Ibnu Abi ushaibiah, hlm 445, dalam Dr. Muhammad ‘Utsman Najati, 1993, Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim, Bandung : Pustaka Hidayah, hlm 137.
[4] Dr. Muhammad ‘Utsman Najati, 1993, Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim, Bandung : Pustaka Hidayah, hlm 137.
[5] Ibid., hlm 111, dalam Dr. Amroeni Drajat, 2006, Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu, Jakarta : Erlangga, hlm 46.
[6] Ibid., hlm 112, dalam Dr. Amroeni Drajat, 2006, Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu, Jakarta : Erlangga, hlm 46.
[7] Dr. Amroeni Drajat, 2006, Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu, Jakarta : Erlangga, hlm 47.
[8] Ahwal an-Nafs, hlm. 63-65; an-Najjah, hlm. 267-269, dalam Dr. Muhammad ‘Utsman Najati, Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim, Bandung : Pustaka Hidayah, 1993, hlm. 146.
[9] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta : Bintang Bulan, 1973, hlm 38-39.
[10] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta : Bintang Bulan, 1973, hlm 39-40.

Categories:

0 comments:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html

Copyright © Catatan Anis Syarifah | Powered by Anis Syarifah